Selasa, 19 Februari 2008

Jakarta 2008 Masih Surga Belanja

Jakarta bakal mengukuhkan perannya sebagai surga belanja di tanah air. Tahun depan Ibukota bakal diguyur 400 ribu meter persegi bangunan baru untuk segmen bisnis ritel. Persaingan kian ketat saja.

Berdasarkan perhitungan konsultan properti PT Procon Indah, Jakarta bakal diguyur 400 ribu meter persegi bangunan baru untuk segmen bisnis ritel. Angka itu naik sekitar 46,7% dibanding periode tahun sebelumnya.

Jika dijumlahkan dengan produk yang sudah dilepas ke pasar, properti ritel di tahun 2008 akan sebesar 3,2 juta meter persegi atau naik 15,7% dibanding tahun ini. Ironisnya, besarnya pasokan itu tidak dibarengi dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap unit baru. Terbukti, tingkat hunian properti ritel di Jakarta malah beranjak turun ke angka 76,5% atau turun 2,2% dibanding tahun 2007.

Pasokan baru properti ritel pada kuartal ketiga tahun ini naik tajam dua kali lipat dibanding kuartal sebelumnya. Itu artinya menambah pasokan kumulatif sektor ritel hingga naik 4,8% akibat masuknya proyek ritel premium skala besar,? ucap Chief Executive Officer PT Procon Indah, Siswanto Widjaja, di Jakarta, Kamis (8/11).

Persaingan antara peritel memang tidak dapat terelakkan. Sebab, properti ritel yang bakal dilepas ke pasar di tahun depan merupakan proyek yang dikembangkan sejak dua atau tiga tahun terakhir.

Menurut pengamat properti Maestro Consulting, Handoko Wignjowargo, untuk bisa mengejar target pengunjung maka operator properti ritel harus bisa melakukan terobosan tertentu sebagai strategi jangka pendek. ?Misalnya dengan menghadirkan ragam penyewa yang berbeda dibandingkan dengan yang ada di tempat lain,? kata Handoko.

Makin gencarnya pembangunan properti ritel ditengarai karena ekspansi besar-besaran peritel asing ke dalam negeri. Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran, menuding masuknya peritel asing sebenarnya tidak berkontribusi signifikan terhadap penghasilan negara. ?Pemain asing di sektor ritel yang sudah masuk ke Indonesia ternyata semu. Pasalnya, peritel asing membebankan sejumlah komponen biaya kepada para pemasok agar barangnya bisa masuk di gerainya,? kata Ngadiran.

Misalnya. pemasok dibebani biaya promosi untuk produk yang ditampilkan di gerai peritel asing. Belum lagi potongan untuk proses pencatatan produk ke dalam komputer (listing fee) dengan nominal beragam, minimal Rp 1 juta per produk untuk setiap gerai. Bayangkan berapa biaya yang mesti dikeluarkan satu pemasok agar bisa menitipkan produknya untuk bisa dijual di seluruh gerai peritel milik asing itu.

Pemerintah tengah menyiapkan draft kebijakan perpasaran yang memberi panduan bagi peritel modern serta pedagang pasar tradisional. Ketentuan itu, paling tidak bisa meminimalkan resiko persaingan usaha tidak sehat di kalangan pebisnis ritel lokal dan asing.
Pemerintah diharapkan bisa mengakomodir setiap aspirasi dari seluruh pemangku kepentingan. Termasuk pentingnya memasukkan poin mengenai mekanisme pengelompokkan peritel raksasa di suatu wilayah.

Di negara asalnya, gerai ritel dibangun di lokasi yang relatif jauh dari kawasan permukiman. Namun di Jakarta mereka bisa seenaknya hadir di tengah kawasan padat bahkan berdampingan dengan pasar-pasar tradisional. Eksesnya bukan hanya mematikan ritel tradisional juga menimbulkan ekses lainnya yakni kemacetan.

Mestinya pemerintah menghitung dengan cermat seberapa besar tingkat kebutuhan warga Jakarta untuk properti ritel baru dan tidak asal percaya hasil riset yang dilakukan para pengusaha ritel besar. Ataukah Jakarta akan disulap menjadi belantara pusat perbelanjaan?

Tidak ada komentar: